The Cross Made the Difference

A century ago crosses dotted the landscape across America. Today many churches do not display the cross on their buildings and city governments have tried to ban the cross on public property. Our founding fathers would be chagrined to see this happen. It’s the cross that made the difference between victory or defeat, hope or hopelessness, eternal life or perdition. History is divided by B. C. and A. D. There are those who want to do away with that significance but it is the cross that made the difference.

The gospel is the finished work of Christ on the cross.

Paul declared, “For I am not ashamed of the gospel of Christ, for it is the power of God to salvation for everyone who believes” (Romans 1:16). Recently a missionary was asked by a young man what the difference is between the Red Cross and the Christian cross. Likewise, many throughout the world and in America are ignorant of the power of the cross.

In almost four decades of ministry I’ve stood in many cemeteries throughout America. This Memorial Day I’ll once again remember those who have died to preserve our freedom and walk by the graves of many of our loved ones. When I think of the thousands who have died, there is only one assurance of hope – The cross made the difference for multitudes.

On the cross the perfect man, the Son of God, gave himself as the perfect sacrifice for the sins of the world. Peter wrote, “He himself bore our sins in his body on the cross so that, free from sin, we might live for righteousness; by his wounds you have been healed” (I Peter 2:24 NRSV). An early church father, Ambrose, wrote, “O the divine mystery of the cross! Weakness hangs on it, power is freed by it, evil is nailed to it, and triumphal trophies are raised towards it.”

Some today say that the cross is not necessary. They are dead wrong – the cross made the difference. The Word of God tells us, “And according to the law almost all things are purified with blood and without the shedding of blood there is no remission” (Hebrews 9:22 NKJV). D. L. Moody, a great preacher of over a century ago, said, “You must be saved by God’s plan. It was love that prompted God to send His Son to save us and shed His blood. That was the plan. And without the blood what hope have you? There is not a sin from your childhood – from your cradle – up ‘til now that can be forgiven, unless by the blood. Let’s take God at His Word . . . Without the blood no remission whatsoever . . . That’s what Christ died for. If a man makes light of that blood what hope has he? How are you going to get into the kingdom of God? You cannot join in the song of the saints if you don’t go into heaven that way . . . You must accept the plan of redemption and come through it.”

Recently Dottie Rambo, one of the greatest and most prolific gospel song writers of all time, went home to her eternal reward. What was the theme of more than 2,500 of her songs? Jesus and His cross was her glory. In her song “I Will Glory in the Cross” she wrote, “I boast not of works nor tell of good deeds. For naught have I done to merit His grace. All glory and praise shall rest upon Him, so willing to die in my place. I will glory in the cross, in the cross. Lest suffering all be in vain. I will weep no more for the cross that He bore. I will glory in the cross.”

This Memorial Day, no matter what you may be facing, remember – the cross made the difference. “For God so loved the world that He gave His only begotten Son, that whosoever believes in him shall not perish, but have everlasting life” (John 3:16).
by: Cliff Sanders
Read More...... Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Angel in The Bus

Di suatu siang hari bolong, jam satu siang, matahari bersinar terik
membakar gosong kulit setiap pengelana yang nekad berada di jalanan.
Panas yang membakar datangnya tidak hanya dari atas, namun
pantulannya di jalan yang beraspal dan tanah kering tandus juga
menambah parah teriknya. Keadaan seperti ini seharusnya cukup
menyadarkan setiap orang akan dosa-dosanya dan tidak menuju ke neraka. Angkutan umum tidak terlalu ramai, barangkali sebagian besar sopir beristirahat atau menunggu di poll karena jam begitu tidaklah banyak penumpang lalu lalang.

Saya naik angkutan umum yang biasa disebut
mikrolet itu dan menjadi penumpang pertama dan satu-satunya. Seperti
biasa saya mengambil tempat di sudut agar tidak di geser-geser
penumpang lain mengingat perjalanan saya cukup panjang. Dalam posisi
seperti ini biasanya saya tidak ingin diganggu karena adalah waktu
dimana saya membiarkan pikiran ini mengembara, entah menghayal,
bermimpi atau berimajinasi.

Selang beberapa waktu naiklah seorang yang sangat tua. Barangkali
usianya belumlah mencapai tujuh puluh tahun namun keadaannya
sangatlah memiluhkan. Badannya kurus dan renta, wajahnya dipenuhi
benjolan-benjolan sebesar kacang polong, matanya merah dan bersinar
lemah dan badanya mengeluarkan bau yang tidak sedap entah disebabkan
oleh penyakitnya atau oleh pakaiannya yang lusuh. Ia mengambil tempat
duduk di depan saya yang walau berusaha tidak perduli tapi sesekali
mengamatinya.

Perjalanan belumlah panjang ketika sopir angkot itu bertanya kepada
orang tua tadi "pak mau turun di mana?". Dan dengan suara berat
dipaksakan ia menjawab "rumah sakit!".

"Aduh pak, kenapa tidak bilang dari tadi, itu Rumah sakitnya sudah
lewat. Bapak turun di sini saja dan ambil angkot lain" kata sopir itu
tanpa belas kasihan sedikit pun. Orang tua itu terlalu lemah sehingga
membutuhkan waktu yang tidak cepat untuk keluar dari angkot tersebut.
Saya satu-satunya penumpang lain disitu tapi badan saya kaku menempal
di jok mobil. Hati saya berteriak keras "ayo, tolong orang tua itu".
Namun badan saya tetap tidak bergerak. Sekali lagi suara hati saya
berteriak bahkan lebih keras lagi "pegang tangannya, goblok!" . Tidak
juga saya lakukan

Dan ketika kedua kakinya menginjak tanah sang sopir langsung menacap
gas dan pergi meninggalkan orang tua itu yang sedang berjuang menjaga
keseimbangan dan mengibas debu yang dihasilkan roda –roda angkot
tersebut. Saya memandangnya dari kaca mobil, dengan penuh belas
kasihan dan rasa bersalah. Entah apa yang menahan tubuh ini dan
membuatnya tidak bekerja sama dengan akal sehat dan suara hati. Saya
seharusnya dapat menolong orang tersebut, menegur sopir yang tidak
manusiawi, membantunya turun, mengantarnya ke RS, menghubungi
keluarganya, atau apa sajalah. Namun semua tidak saya lakukan.
Kenyamanan telah mengalahkan keinginan untuk berbuat baik. Perasaan
tidak ingin ditepotkan telah mendiamkan teriakan suara hati nurani.
Dan sekarang saya punya masalah, karena wajah orang tua itu terus
membayang mengikuti kemana saya pergi : ke sekolah, waktu makan atau
mejelang tidur.

"Apa yang terjadi jika seandainya orang itu adalah malaikat yang
dikirim Tuhan untuk menguji saya?" tanya saya dalam hati. "Habislah
reputasi saya sebagai anak Tuhan jika orang itu memang adalah
malaikatnya" terus menerus saya berkata pada diri sendiri sekan-akan
ingin menghukumnya dengan perasaan bersalah.

Tiga hari kemudian, ayah saya berkata bahwa seorang tak dikenal telah
meninggal di rumah sakit tempat ia bekerja yang adalah rumah sakit
tujuan orang tua tersebut ketika saya bertemu dengannya. Dan ia tidak
memiliki keluarga atau siapapun. Saya tidak punya kesempatan untuk
melihat tampang mayat tersebut, namun dalam bayangan saya orang tua
itulah yang terbaring di sana. Jika benar, saya telah kehilangan
kesempatan untuk berbuat baik yang terakhir kali buatnya.

Pengalaman ini mengubah saya untuk tidak menunda untuk mengulurkan
tangan bagi yang membutuhkan. Pertama mereka mungkin adalah malaikat
yang menjelma, kedua itu mungkin kesempatan terakhir bagi kedua
pihak. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok.

Banyak orang Kristen yang merasa terlalu nyaman berada di dalam
gedung gereja yang ber AC dan berkarpet tebal. Para pendeta juga
lebih senang melayani di tempat yang menjanjikan uang daripada
menjanjikan jiwa. Sementara itu di sekitar kita masih banyak malaikat-
malaikat yang berkeliaran menyerupai pengemis, gelandangan, pengamen
dan anak-anak kecil di lampu merah.

Terlalu banyak orang yang membutuhkan berada di sekitar kita yang
tentu tidak masuk akal jika kita harus menolong semuanya. Namun,
paling tidak ulurkan tangan kepada orang yang Tuhan kirim kepada Anda.

God Bless You. Amin
Read More...... Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Save From Death

Posman adalah seorang aktor yang sudah membintangi banyak film di Indonesia. Namun ada satu kejadian dalam hidupnya yang sangat membekas dalam ingatannya dan keluarganya. Pada suatu hari Posman dan keluarganya berencana berlibur ke daerah Subang, Jawa Barat. Tetapi entah mengapa pada saat ingin pergi, Posman tidak berniat sama sekali untuk pergi. Ia merasa tidak enak perasaannya, kalau bisa ia ingin menundanya. Tetapi karena ia melihat keluarganya ingin sekali pergi jadi ia terpaksa ikut.

Sebelum berangkat untuk berlibur, Posman mengecek mobilnya semua. Mulai dari mesin, rem, dll. Semuanya beres dan tidak bermasalah. Akhirnya merekapun berangkat. Di perjalanan Posman masih merasa jengkel karena dari awal ia memang tidak berniat untuk pergi. Ia menjadi uring-uringan dijalan. Hal yang membuat ia menjadi lebih jengkel karena mereka salah keluar tol. Jadi mereka salah ambil jalan. Posman semakin jengkel karena ia disalahkan. Untuk melampiaskan kekesalanya, ia membelok-belokkan mobilnya. Walaupun semua keluarganya dibelakang sudah marah-marah namun ia tidak peduli, ia tetap menyetir dengan zig zag.

Pada saat sudah keluar dari jalan tol, akhirnya Posman mencari orang untuk menunjukkan jalan yang benar. Lalu ia bertemu dengan Asep, si penunjuk jalan. Pak Asep membawa motor didepan mobil mereka. Tiba saat dipersimpangan, tiba-tiba Pak Asep rem mendadak. Hal ini membuat Posman bingung dan langsung menginjak rem juga. Tetapi entah mengapa remnya tiba-tiba tidak berfungsi dengan baik. Karena panik Posman langsung membanting stirnya kesebelah kanan. Tanpa ia sadari mobilnya menuju kearah jurang.

Seketika canda gurau keluarganya hilang dan berganti dengan kepanikan dan teriakan minta tolong. Mereka terguling-guling dijurang sejauh 100 Meter lebih. Saat itu kematian adalah pilihan Posman dan keluarganya. Mereka semakin terperosok ke jurang. Saat itu Posman langsung berteriak dan meminta pertolongan pada Tuhan Yesus.

Akhirnya mobil berhenti berguling. Lalu Posman sadar bahwa ia masih hidup. Ia langsung mengucapkan puji syukur pada Tuhan. Walapun saat itu Posman merasa susah siap kalau ia mati saat itu, namun ia bersyukur masih dapat melihat keluarganya lagi. Semua anggota keluarga selamat, mereka hanya luka-luka kecil. Akhirnya mereka keluar dari mobil dan berusaha naik dari jurang tersebut dibantu oleh warga.

Posman yakin, bila bukan Tuhan maka tidak akan mungkin mereka selamat dari kecelakaan maut itu. jurang yang dalam dan keadaan mobil yang sudah hancur membuktikan bahwa mukjizat Tuhan itu memang ada.

Dari kejadian tersebut, Posman mendapat hikmah bahwa Tuhan Yesus ada. Ia penolong, Ia penyelamat, Dialah diatas segalanya, Dialah Juruslamat.

Kisah ini ditayangkan 7 Mei 2009 dalam acara Solusi Life di O'channel)
Nara Sumber :
Posman Tobing
Read More...... Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Miracle of Jesus Christ


“For the last four years, I have been having a lot of pain in my back, arms, legs, and neck. I could not use the stairs because I was in so much pain. The doctor told me I had arthritis and prescribed medication and could not even drive because of side effects. I could not sleep well because of the pain throughout my body. Read More...... Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Father Diary


Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.
Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang
pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit.
Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal - hal kecil dalam rumah tangga.

Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya.
Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku? buku tersebut telah disimpan selama puluhantahun.
Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas. Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca Dengan seksama
halaman demi halaman isi buku itu.

Semuanya merupaka catatan hal ? hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya."
"Anak - anak terlalu berisik, untung ada dia."
Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak? anak dan terhadap keluarga ini. Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."
Ayah menggelengkan kepalanyadan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."

Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidakmungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan?
Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal,
juga suka mencari gara - gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan
saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya
sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya
juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu."

Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"
Ayah hanya tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala dimalam hari,menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan pihak lain. ha. ha. ha."
Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba - tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan :

"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan dari orang lain. Lupakan segala kesalahan dari pihak lain."
Read More...... Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

The Collision of God and Sin


. . . who Himself bore our sins in His own body on the tree . . . —1 Peter 2:24

The Cross of Christ is the revealed truth of God’s judgment on sin. Never associate the idea of martyrdom with the Cross of Christ. It was the supreme triumph, and it shook the very foundations of hell. There is nothing in time or eternity more absolutely certain and irrefutable than what Jesus Christ accomplished on the Cross— He made it possible for the entire human race to be brought back into a right-standing relationship with God. He made redemption the foundation of human life; that is, He made a way for every person to have fellowship with God.

The Cross was not something that happened to Jesus— He came to die; the Cross was His purpose in coming. He is "the Lamb slain from the foundation of the world" ( Revelation 13:8 ). The incarnation of Christ would have no meaning without the Cross. Beware of separating "God was manifested in the flesh. . ." from ". . . He made Him. . . to be sin for us. . ." ( 1 Timothy 3:16 ; 2 Corinthians 5:21 ). The purpose of the incarnation was redemption. God came in the flesh to take sin away, not to accomplish something for Himself. The Cross is the central event in time and eternity, and the answer to all the problems of both.

The Cross is not the cross of a man, but the Cross of God, and it can never be fully comprehended through human experience. The Cross is God exhibiting His nature. It is the gate through which any and every individual can enter into oneness with God. But it is not a gate we pass right through; it is one where we abide in the life that is found there.

The heart of salvation is the Cross of Christ. The reason salvation is so easy to obtain is that it cost God so much. The Cross was the place where God and sinful man merged with a tremendous collision and where the way to life was opened. But all the cost and pain of the collision was absorbed by the heart of God. (From RBC.org) Read More...... Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Mampukah Kita Mencintai Istri atau Suami Kita Tanpa Syarat?

Ini cerita nyata, beliau adalah Bapak Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dalam memajukan industri Reksadana di Indonesia.

Apa yang diutarakan beliau adalah sangat benar sekali. Silakan baca dan dihayati.

Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat

Sebuah perenungan buat para suami, istri dan calon istri.

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja, Pak Suyatno 58 tahun,
kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit dan sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang.
Dan lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.
Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya
bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari, ke empat anak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing
dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu , semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati-hati, anak yang sulung berkata "Pak, kami ingin sekali merawat Ibu semenjak kami kecil melihat Bapak merawat Ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak. Bahkan Bapak tidak izinkan kami menjaga Ibu".
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya. ,"Sudah yg keempat kalinya kami mengizinkan Bapak menikah lagi, kami rasa Ibupun akan mengijinkannya, kapan Bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baik secara bergantian .
Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak mereka.
"Anak-anakku, jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah, tapi ketahuilah dengan adanya Ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,
dia telah melahirkan kalian".
Sejenak kerongkongannya tersekat.
"Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya Ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini?
Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan Ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit."
Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat sendiri Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa.
Di saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio.
Kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.
Disitulah Pak Suyatno bercerita. "Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesiasiaan.
Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun
dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit" Read More...... Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

God's Love Story

How can I give you up, Ephraim? How can I hand you over, Israel? . . . My heart churns within Me; My sympathy is stirred. —Hosea 11:8

Is there any human feeling more powerful than that of betrayal? Ask a high school girl whose boyfriend has dumped her for a pretty cheerleader. Or tune your radio to a country-western station and listen to the lyrics of infidelity. Or check out the murders reported in the daily newspaper, an amazing number of which trace back to a quarrel with an estranged lover.

In the Old Testament, God through Hosea’s marriage demonstrates in living color exactly what it is like to love someone desperately and get nothing in return. Not even God, with all His power, will force a human being to love Him.

Many people think of God as an impersonal force, something akin to the law of gravity. The book of Hosea portrays almost the opposite: a God of passion and fury and tears and love. A God in mourning over Israel’s rejection of Him (11:8).

God the lover does not desire to share His bride with anyone else. Yet, amazingly, when Israel turned her back on God, He stuck with her. He was willing to suffer, in hope that someday she would return to Him.

Hosea, and later Jesus, prove that God longs not to punish but to love. In fact, He loved us so much that He sent His Son to die for us! — Philip Yancey

Love sent the Savior to die in my stead.
Why should He love me so?
Meekly to Calvary’s cross He was led.
Why should He love me so? —Harkness

God loved us so much, He sent His only Son. (From Our Daily Bread) Read More...... Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Allah Turut Bekerja

Kejadian naas itu terjadi pada tanggal 15 April 2005, saat itu saya baru selesai makan siang. Saya lihat pekerjaan anak buah saya belum selesai, karena mereka lagi makan siang. Pikir saya daripada kasihan mereka pekerjaan belum selesai, apa yang saya bisa bantu saya mau lakukan. Maksud saya waktu itu nanti setelah saya bantu pekerjaannya mungkin dia bisa melanjutkan pekerjaan yang lainnya. Kejadiannya sekitar 500 m dari rumah saya, daerah Sunter. Ledakan terjadi, karena saya memotong bekas drum oli, saya pikir bekas drum oli sudah terbiasa dipotong atau digerinda, ternyata drum bekas yang satu ini bekas bahan kimia, jadi ada gas yang mau keluar. Ketika saya gerinda ada percikan api, percikan api itu memicu ledakan itu, saya waktu itu memotong bagian bawah, tapi dibagian atas meledak karena ada tekanan gas. Drumnya langsung menghantam mata saya dan saya koma.

Saya langsung dibawa kerumah sakit, saya disuntik morfin, supaya saya tidak terlalu merasa kesakitan, karena kecelakaan itu membuat saya sangat kesakitan sekali, meskipun saya diikat pun, saya masih terus meronta karena sakitnya. Akhirnya saya langsung dibawa kerumah sakit Mitra Kemayoran Jakarta.

Megawati Lim (Istri Eddy): Begitu mendengar kabar suami saya, awalnya saya tidak bisa terima. Saya bilang, apa salah suami saya? Kenapa sih Tuhan? Saya juga ga jahat sama orang... Tapi banyak teman-teman seiman yang menguatkan, dan mengatakan bahwa pencobaan-pencobaan yang diberikan tidak melampaui kekuatan kita. Karena Tuhan punya maksud... Dan saya merasa waktu itu memang Tuhan menguatkan saya...

Saya dioperasi di Singapura
Selama seminggu saya dalam keadaan koma, setelah sadar saya masih bisa membayangkan peristiwa terakhir yang terjadi pada saya. Saya di Jakarta sekitar 23 hari, setelah sadar saya sudah lihat siapa saja yang datang, operasi yang dilakukan di Indonesia adalah operasi untuk membuang mata saya, karena ledakan itu membuat bola mata saya hancur dan banyak darah yang keluar. Setelah operasi selesai dilakukan ternyata kondisi badan saya lemah, sampai beberapa hari keadaan tubuh saya tetap lemah, saat itu saya merasa mengapa sudah 23 hari kondisi saya tidak baik, semakin hari malahan semakin buruk, makan saja masih bisa lemas, ternyata setelah diperiksa tulang saya dimuka ini pada hancur layaknya kalau kaca pecah seperti pecah seribu.

Akhirnya operasi kemudian dilakukan di Singapur untuk merekonstruksi tulang muka saya. Operasi yang dilakukan adalah dengan membuka kepala saya, tulang-tulangnya dibetulkan, dilem, engsel-engsel gigi juga... Pada akhirnya puji Tuhan operasi berjalan dengan baik dan luar biasa berjalan lancar. Selesainya operasi dan pengobatan di Singapur hanya 5 hari, tapi untuk berobat jalan beberapa hari.

Sepuluh hari saya di Singapore dan kemudian balik lagi ke Indonesia, dan perawatan dirumah tinggal menghabiskan obat yang tersisa. Pada saat saya di Singapore kondisi badan saya lemah. Mata saya yang berfungsi cuma satu, dan satunya dibiarkan saja dan memakai biji mata palsu. Biji mata palsu dipakai supaya jangan orang melihat mata saya jadi ngeri, biji mata palsu itu harganya cukup mahal. Apalagi perawatannya, kalau kotor setahun sekali saya ganti yang baru karena sudah mulai kasar, maka akhirnya saya beli yang baru. Melalui peristiwa ini saya menyadari bahwa Tuhan tetap menolong hidup saya, dengan masih bisanya saya melihat. Kesehatan saya juga berangsur-angsur pulih dan semakin tambah baik. Di Singapore saya belum dikasih tahu kalau kondisi mata saya tidak dapat melihat lagi satunya.

Megawati Lim: Yang paling saya takutkan itu, saya takut dia tidak bisa terima kondisinya... Saya doa bilang, “Tuhan, saya sayang dia, saya mau terima dia apa adanya... Tuhan, tolong jangan buat Eddy murtad...”

Bahkan istri saya bilang kalau misalnya jahitan matanya dibuka dan suami saya meronta tolong di kasih suntikan penenang saja, karena istri saya takut pada akhirnya saya ngamuk dan tidak bisa menerima kenyataan. Tapi setelah saya tahu bahwa saya buta, yang saya rasakan saat itu adalah saya bisa menerima. Saya langsung diingatkan Tuhan mengenai kisah Ayub yang menguatkan saya, karena Ayub saja yang mempunyai banyak penderitaan yang lebih berat saja bisa menerima segala sesuatunya. Jadi saya cuma mengucap syukur saja, Puji Tuhan karena selama ini saya sudah banyak menerima banyak hal dalam hidup saya.

Selama berminggu-minggu dirawat di RS, baik di Jakarta maupun di Singapura, telah menghabiskan biaya sebanyak kurang lebih 500 juta rupiah. Namun di saat Eddy dan Mega bersatu berseru kepada Tuhan, keajaiban demi keajaiban terjadi.

Megawati Lim: Setiap hari ada saja pertolongan dari Tuhan. Sejak kejadian dibawa keluar ke Singapur, semua dana yang dibutuhkan sama sekali tidak mengambil dari uang tabungan kami, dan saya percaya Allah tidak pernah berhutang. Selalu ada saja bantuan yang datang buat keluarga kami. Saya juga semakin mengasihi Eddy, sebagai seorang istri saya yang merawat dia, suapin dia makan, doain dia, peluk dia, saya berjuang untuk dia, kalau bukan saya yang tulang rusuknya, siapa lagi, itu pikir saya.

Setelah menjalani perawatan di Singapur, berangsur-angsur kesehatan Eddy dipulihkan Tuhan secara total. Saat ini, dampak dari kecelakaan itu tidak tampak pada diri Eddy. Bahkan Tuhan menambah-nambahkan hikmat dan kepandaian kepada Eddy dalam mengembangkan bisnisnya.

Yang saya tahu kecelakaan ini malahan membuat saya memiliki kepintaran yang lebih lagi, mungkin karena saya mau menerima ini semua kejadian dengan mengucap syukur. Saya bersyukur karena saya masih dipercayakan satu mata, saya masih bisa pakai baju sendiri, bekerja dan berjalan sendiri,... Hal yang tidak mungkin, ketika menjadi mungkin, itulah yang namanya mukjizat... Tuhan dasyat dalam hidup saya, karena kecelakaan itu membawa sesuatu yang lebih berarti lagi bagi hidup saya...(fis)

”Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28)

Cerita ini disadur dari salah satu kesaksian oleh Eddy Lim Read More...... Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kuasa Doa - Kesaksian Hidup

Saya menikah di usia yang tidak lagi muda. Keterlambatan saya menikah disebabkan oleh persepsi yg sedikit keliru tentang pernikahan. Meskipun saya berasal dari keluarga yang pernikahan orang tuanya berbahagia, saya begitu termakan dengan berita yang pernah saya dengar atau baca bahwa kalau kita menikah, kita akan terikat, kehilangan kebebasan, kalau terlambat pulang akan dihadiahi muka masam, dstnya. Kita juga tidak bisa lagi mengejar impian-2 kita sebagai pribadi.

Setelah usia saya menginjak 36 thn, keinginan untuk menikah timbul dengan begitu kuatnya. Setiap kali mengikuti persekutuan doa atau pun kelompok cell family altar, saya sering minta didoakan agar saya diberi jodoh. Saya pernah mendengar seorang pembicara yg mengatakan bahwa kita boleh menyebut kriteria pasangan yang kita inginkan pada saat kita memintanya kepada Tuhan. Saya pun meminta pasangan hidup yang cantik, tinggi, putih, langsing, dstnya tapi tentu saja harus anak Tuhan. Teman-2 saya mengatakan saya berat jodoh karena terlalu pemilih dan kriteria yang saya inginkan terlalu tinggi, "Mana ada orang yang sempurna kata mereka! ". Mungkin juga ada benarnya, tapi saya berprinsip bahwa saya tidak mau berpura-2 mencintai seseorang dan menikahinya hanya karena alasan umur yang sudah senja.

Tuhan memang maha pemurah, dengan caranya yang ajaib, saya dipertemukan dengan seorang gadis yg masih satu daerah dengan saya dan masih terhitung kerabat. Dia cantik dan putih, hidungnya mancung mesti tidak tinggi langsing seperti yg saya idam-2 kan sebelumnya. Tutur katanya halus dan panjang sabar. Ini cocok untuk mengimbangi saya yang agak temperamental dan cenderung ingin menang sendiri. Kalau kami berselisih paham, sering kali dia yang duluan meminta maaf meskipun sebenarnya saya yang salah. Dengan cara yg sederhana tersebut, dia mengajari saya untuk tidak lagi gengsi untuk meminta maaf. Selanjutnya saya meminta tanda dari Tuhan, bahwa apabila hubungan kami disetujui semua keluarga besar kami meskipun usia kami terpaut 15 tahun, berarti dia adalah jodoh yg Tuhan pilihkan buat saya. Saya menggumulkna hal ini berulang-ulang dalam doa. Benar, Tuhan turut campur tangan sehingga semua urusan peminangan secara adat berjalan dengan lancar meski calon mertua saya belum pernah melihat dan mengenal saya secara langsung karena saya sudah meninggalkan kampong halaman saya selama 22 tahun. Kalau bukan karena pertolongan Tuhan, mana mungkin ada keluarga yang mau menyerahkan anak gadisnya kepada orang yg belum pernah mereka lihat apalagi mengenal wataknya. Keluarga besar kami memang saling mengenal dengan baik karena masih ada hubungan kerabat, mereka bisa memaklumi ketidak pulangan saya selama urusan adat karena saya terikat pekerjaan. Kami akhirnya menikah di Sumba, daerah asal kami pada tanggal 10 October 2004. Setelah menikah, dia pindah mengikuti saya yang tinggal dan bekerja di Tangerang. Saya berusia jalan 39 tahun pada saat itu dan isteri saya berusia jalan 24 tahun

Mengingat usia saya yang tidak lagi muda, kami sepakat untuk langsung mempunyai anak begitu selesai menikah. Kami bergumul meminta sama Tuhan dan juga rajin bertanya pada teman-2 yang sudah terlebih dahulu mempunya anak. Setelah kosong tiga bulan, Tuhan menjawab doa kami dan isteri saya dinyatakan positif hamil. Kami tinggal didaerah Pasar Kemis yg jalanannya hampir selalu macet. Kalau mau periksa ke rumah sakit Siloam - Tangerang, harus lewat jalan belakang dan lewat tol Kedaton sehingga jarak perjalanannya menjadi 3x lipat. Karena isteri saya juga sering mual-2 di awal kehamilannya dan juga terkadang suka mabuk perjalanan, akhirnya kami memutuskan untuk periksa ke klinik Bunda Sejati yang tidak begitu jauh dari rumah. Kami dapat info dari teman gereja yang pernah melahirkan di sana bahwa pada hari-2 tertentu, ada dokter spesialis anak dari RS Harapan Kita yang praktek disana dan fasilitasnya juga cukup lengkap. Ada alat USG dan ada dua kamar VIP yang cukup representatif di klinik tsb. Kedua ruangan ini hampir selalu kosong setiap kali kami pergi periksa ke klinik tsb. Mungkin tarifnya terlalu mahal bagi mayoritas karyawan pabrik di daerah sekitar Pasar Kemis. Kami rajin konsultasi dengan Dokter spesialis kandungan dan mengikuti semua saran dokter agar kehamilan isteri saya berjalan lancar dan sehat. Kami juga terus berdoa agar anak kami lahir secara normal dan juga dengan anggota tubuh yang lengkap, terhindar dari segala bentuk kelainan dan cacat bawaan. Setiap kali kami konsulatasi, Dokter selalu memberikan diagnosa yang positif bahwa si ibu dan calon bayinya sehat-2 saja, tidak ada kelainan apa-2. Pada saat usia kandungan sudah 6 bulan, dengan berdasarkan hasil USG, Dokter memperkirakan anak kami laki-2. Betapa bahagianya saya dan isteri karena kami dari etnis Sumba yang patrilineal alias hanya anak laki-2 yang bisa meneruskan nama keluarga. Dokter memprediksi kelahiran akan terjadi pada sekitar minggu kedua bulan October.

Pada tanggal 27 September pagi, istri saya mulai merasakan kontraksi dan sedikit mules. Para ibu tetangga yg sudah mempunyai anak dan juga tante kami yang datang dari sumba untuk menolong proses melahirkan isteri saya mengatakan bahwa kelahiran akan terjadi paling lambat keesokan harinya. Sepulang kantor pada sekitar jam 7 malam saya membawa isteri saya ke klinik Bunda Sejati, rencananya kami mau mulai mondok saja malam itu. Betapa kagetnya kami karena kedua ruangan VIP yang biasanya kosong itu kedua-duanya terpakai. Belakangan baru saya pahami bahwa digunakannya kedua ruangan VIP tersebut bukan suatu kebetulan tapi karena Tuhan menginginkan kami pergi ke RS yang lebih lengkap fasilitasnya. Akhirnya saya memutuskan untuk ke RS Sari Asih karena dokter kandungan yg menangani isteri saya juga punya jadwal praktek disana meski saya tidak terlalu paham reputasi rumah sakit tersebut. Kami khawatir untuk ganti dokter karena takut dokter baru itu tidak mengetahui riwayat kehamilan isteri saya. Setelah melalui proses yang panjang pada malam itu akhirnya isteri saya melahirkan seorang bayi laki-2 secara normal pada tanggal 28 September 2005 jam 06.35 WIB. Saya sebenarnya fobia melihat darah tapi demi menguatkan isteri, saya turut memaksakan diri berdiri disamping tempat tidur untuk memberi dorongan semangat kepada isteri saya ketika dia berjuang bertaruh nyawa melahirkan bayi kami. Itulah sebabnya begitu anak kami lahir, saya langsung lari keluar supaya tidak melihat darah yang banyak itu. Betapa leganya hati ini, akhirnya saya menjadi seorang bapak. Saya kemudian sibuk menelpon dan mengirim sms menyampaikan kabar gembira ini kepada semua kerabat dan teman-2.

Lebih kurang setengah jam setelah anak saya selesai dibersihkan dan diperiksa, Saya dipanggil ke ruangan khusus. Hati saya berdebar-2 ketika seorang suster meminta saya menemui Dokter di ruangannya, jangan-2 anak saya ada kelainan. Benar dugaan saya, ternyata anak saya tidak mempunyai lubang anus. Di daerah yg seharusnya ada lubang anus, ada semacam daging tumbuh yang sedikit menonjol. Dokter menjelaskan bahwa anak saya harus dirawat di ruang perinatologi karena ada kelainan. Dia akan dirontgen dan diperiksa oleh dokter bedah untuk menentukan apakah bisa langsung dioperasi untuk dibuatkan dubur ataukan harus dibuatkan lubang pembuangan sementara didaerah perutnya. Operasi pembuatan lubang pembuangan di perut namanya "Collestomi" dan harus melalui 3 tahapan operasi baru bisa mempunyai lubang anus dipantat. Tahap pertama dibuatkan lubang pembuangan sementara di perut. Tahap kedua, setelah si bayi cukup besar, akan dibuatkan lubang anus. Tahap ketiga atau terakhir adalah penutupan Collestomi di perut dan penyambungan anus dengan ususnya. Membayangkan bayi sekecil itu harus mengalami operasi berulang-2, batin saya menjerit! Saya bertanya-2, "Tuhan! Saya rajin berdoa, setia ke gereja, rajin ikut FA dan PD kantor bahkan menjadi pengurus, pernah mengajar sekolah minggu, pernah menjadi ketua Pemuda di gereja, pernah menjadi majelis, kenapa saya harus diuji seberat ini? Kalau saya memang bersalah, kenapa anak saya yang dihukum! Bukankah semasa ia masih dalam kandungan, tidak putus-2nya kami berdoa agar dia terhindar dari segala bentuk kelainan? Bukankah Tuhan berjanji kalau dua seorang sehati sepakat meminta maka Tuhan akan menjawab mereka ( Mat 18: 19)". Hal ini menjadi semakin berat karena hal tsb harus saya pikul sendirian, saya tidak tega menyampaikannya kepada isteri saya yang masih meringis menahan rasa sakit bekas persalinan. Belum lagi membayangkan anak saya harus puasa 18 jam sebelum di rontgen dan membayangkan tajamnya jarum suntik yang ditusukkan ke tubuh mungilnya untuk pengambilan darah guna pemeriksaan laboratorium. Untuk mendapat dukungan kekuatan, saya mengirim sms dan juga menelpon beberapa saudara seiman. Balasan SMS dan telpon dari mereka cukup menguatkan saya. Ada yang mengatakan, "Tuhan pasti punya maksud atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita". Ada yang mengutip ayat Alkitab yang mengatakan bahwa pencobaan-2 yg kita alami hanyalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Apabila Dia mengijinkan pencobaan itu datang, Dia akan memberi kekuatan sehingga kita cakap menanggungnya. Saya sangat bersyukur dengan kata-2 yang menguatkan dari saudara-2 seiman. Saya baru memberitahukan isteri saya mengenai keadaan anak kami pada jam 6 sore setelah keadaannya cukup stabil. Melihat isteri saya menangis sambil menahan rasa sakit merupakan siksaan tersendiri lagi buat saya.

Beruntung saya tidak tenggelam dalam kesedihan. Saya menghardik diri saya sendiri untuk membangunkan iman saya. Dengan dibantu adik saya perempuan, kami berdoa sepanjang hari itu, bergumul meminta belas kasihan Tuhan supaya anak saya bisa langsung dibuatkan anus tanpa melalui pembuatan collestomi. Saya berkata, "Tuhan Yesus, Engkau tetap sama baik 2000 tahun yg lalu maupun sekarang bahkan sampai selama-2 nya. Saya percaya Engkau tetap mampu melakukan mujizat buat anak saya, Kalau dia tidak ada usus, buat ada ususnya sekarang!". Saya terus berdoa ketika anak saya harus masuk ke ruang radiolaogi untuk dirontgen pada jam 12 malam hari itu. Saya tidak bisa tidur sepanjang malam itu, pagi-2 benar saya sudah ke ruangan dokter menanyakan hasil rontgen anak saya. Puji Tuhan, Tuhan Yesus maha baik, anak saya ada ususnya. Dia hanya perlu operasi pembuatan lubang anus. Saya percaya ini merupakan jawaban Tuhan atas seruan kami memohon pertolongan. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, air mata ucapan terima kasih bergulir di kedua belah pipi saya. Begitu keluar ruangan dokter, dengan air mata masih menggenang di pelupuk mata saya menyenandungkan lagu:

SMUA BAIK SMUA BAIK
SEGALA YANG TLAH KAU PERBUAT
DIDALAM HIDUPKU
SMUA BAIK
SUNGGUH TERAMAT BAIK
KAU JADIKAN HIDUPKU BERARTI.

Pergumulan selanjutnya adalah mencari jadwal operasi yang pas buat anak saya. Meski saya menginginkan agar operasi dilakukan hari itu juga, tanggah 29 September 2005, ini bukan persoalan yang mudah karena Dokter ahli bedah spesialis bayi yang baru lahir hanya beberapa orang jumlahnya di Indonesia. Yang punya dokter ahli tersebut hanya RSCM dan RS Harapan Kita. Dokter-2 yang jumlahnya sedikit inilah yang juga beredar di berbagai rumah sakit swasta atau negeri yang ada di Indonesia sehingga jadwalnya sangat padat. Terlebih lagi hanya ada satu Dokter bedah spesialis anak baru lahir yakni Dokter Sastiyono dari RSCM yang ada hubungan kerja dengan RS Sari Asih sehingga praktis hanya Dr inilah yang bisa diminta untuk mengoperasi anak saya. Menunggu konfirmasi dari RS mengenai persetujuan dari Dr Sastiyono saya rasakan seperti bertahun-2 lamanya. Saya menjadi tidak sabar dan berusaha mencari RS yang lain agar anak saya dirujuk ke sana . Saya mencoba mendatangi rumah sakit Siloam, ternyata dokter untuk masalah seperti anak saya hanya bisa ditemui dengan perjanjian terlebih dahulu dan jadwalnya hanya setiap hari Selasa sedangkan tanggal 29 September adalah hari Kamis .. Saya juga kuatir kalau pindah rumah sakit maka ada kemungkinan anak saya harus memulai dari awal semua proses pengecekan lab dan rontgen karena belum tentu RS baru percaya begitu saja hasil lab dan rontgen dari RS Sari Asih. Mereka juga mempunyai standar prosedur yang berbeda. Sementara kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena anak saya sudah mulai diinfus dan perutnya sudah mulai kembung sebab tidak ada pembuangannya. Akhirnya saya memutuskan untuk focus pada RS Sari Asih saja. Kami sungguh2 berdoa agar Tuhan menggerakkan hati para dokter dan suster dengan belas kasihan supaya anak saya segera dioperasi. Setelah berkali-2 berkonsultasi dengan pihak RS Sari Asih, saya mendapat kepastian bahwa operasi akan dilakukan Jam 3 sore pada tgl 29 September itu juga. Puji Tuhan, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah molor 1 jam dari jadwal operasi tapi anak saya masih belum juga dioperasi. RS beralasan, Dokter Sastiyono kejebak macet orang demo kenaikan BBM. Beberapa kali RS mencoba menghubungi beliau tapi tidak tersambung. Kami tidak putus asa, kami terus berdoa agar Tuhan menuntun Dokter Satiyono ke Tangerang. "Tuhan!, singkirkan semua halangan agar Dokter Sastiyono dapat tiba di Tangerang", pinta kami. Pada jam 6.30 Sore saya baru mendapat kepastian bahwa Dr Sastiyono sedang dalam perjalanan dan operasi pasti akan dilakukan malam itu juga. Sebagaimana prosedur standar RS kalau ada pasien yang akan dioperasi, saya juga diminta menanda tangani sejumlah surat yg menyatakan tidak akan menuntut RS apapun yg menjadi hasil operasi nantinya. Saya juga harus siap membayar tambahan uang muka RS yg tidak murah karena begitu selesai operasi, anak saya harus masuk ruang NICU ( Neonatal Intensive Care Unit ) sampai kondisinya menjadi stabil. Dokter anestasi mengatakan bahwa bayi yg baru lahir organ tubuhnya belum berfungsi dengan normal sehingga sangat rentan terhadap efek anestesi. Hal-2 diluar dugaan sangat mungkin sekali terjadi. Sejujurnya penjelasan Dokter itu membuat saya kuatir dan takut tetapi saya berusaha menguatkan diri. Saya berkata pada Dokter anestesi dan para pembantunya bahwa saya sudah berdoa sehingga saya yakin anak saya akan baik-2 saja. Saya katakan, "Tuhan sendiri akan turut campur tangan mengoperasi anak saya sehingga saya tidak perlu kuatir!". Saya melihat Dokter dan para asistennya yg semuanya muslim menjadi agak terpana, mungkin mereka tidak biasa mendengar kata-2 seperti yang barusan saya ucapkan. Saya bersyukur, dalam kondisi seperti itu, saya masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mempraktekkan kesaksian iman. Sungguh benar, tiada yang mustahil bagi orang percaya.

Saya bertemu Dokter Sastiyono hanya beberapa saat menjelang anak saya dibawa menuju ruang operasi. Saya menduga umurnya sudah diatas 50 tahun. Orangnya tidak banyak bicara tapi saya lihat dia mempunyai percaya diri yang tinggi. Saya semakin yakin anak saya akan baik-2 saja. Anak saya masuk ruang operasi pada sekitar pukul 7.30 WIB. Saya dan adik saya menunggu diluar kamar operasi dengan perasan optimis dengan satu keyakinan bahwa Yesus yang kita sembah jauh lebih besar dari segala masalah kita.
Proses operasi hanya berlangsung lebih kurang 45 menit. Ketika Dokter Sastiyono keluar ruang operasi, dia mengatakan, "Operasi berjalan lancar, mudah-2an tidak ada apa-2! ". Kami semakin optimis dan tidak henti-2nya mengucap syukur kepada Tuhan.

Kami menjadi tidak sabar untuk segera melihat anak kami keluar ruang operasi. Setiap kali pintu ruang operasi dibuka dengan tidak sabar sabar kami berlari mendekati pintu tersebut. Sudah hampir sepuluh pasien yg didorong keluar dari ruang operasi tapi anak saya bukan salah satu diantaranya. Walau sedikit gelisah, kami masih tetap bersabar, tokh dokter mengatakan, "Operasi berjalan lancar! ". Lebih kurang jam sembilan, berarti anak saya sudah satu setengah jam di ruang operasi, suara pintu ruang operasi kembali berdenyit karena dibuka. Kali ini tidak ada pasien yg didorong keluar, tapi dokter kepala anestesi yg tadi saya temui sebelum operasi mencari saya. Bukannya anak saya yg segera keluar ruang operasi tapi saya yg justru diminta masuk ruang operasi, hati saya berdebar kencang, " Apa yg terjadi dengan anak saya!", saya menjerit dalam hati, pikiran buruk segera hinggap di pikiran saya. Saya dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan setelah terlebih dahulu diminta mencopot sepatu. Dengan sangat hati-2, si dokter menceriterakan kondisi anak saya yg memburuk pasca operasi. Dokter tsb berceriteraa, " Setelah operasi selesai, anak saya tidak bisa bernafas sendiri, dia harus dibantu alat pernapasan. Mereka sudah beberapa kali melakukan tindakan medis tapi tidak ada reaksi sehingga alat bantu pernapasan tidak bisa dilepas". Suhu tubuh bayi normal adalah 36,5 - 37,5 derajad celcius tapi tubuh anak saya suhu tubuhnya drop sampai 34 derajad celcius padahal AC diruang dimana dia dioperasi sudah dimatikan. Mereka berjanji untuk terus berupaya menolong anak saya tapi saya diminta untuk tidak berharap terlalu banyak. Mereka meminta saya mendukung dalam doa dan juga bersikap pasrah.

Saya berjalan keluar ruang operasi dengan perasaan lunglai. Berbagai ketakutan dan bayangan buruk melintas dalam pikiran. Saya bergumam sendiri, " Apakah anak saya akan keluar ruang operasi setelah menjadi jenazah? Apakah saya harus menyiapkan penguburan? Dimankah dia harus dikuburkan? Haruskah dibawa pulang ke Sumba atau dikubur disini saja? ". Air mata saya tidak mampu lagi terbendung.

Untung pada saat kritis tersebut, sekali lagi saya diingatkan akan janji-2 Tuhan Yesus. Daripada berpikir yang bukan-2, lebih baik saya memperkatakan janji Tuhan. Semua janji Tuhan tentang pertolongan saya ucapkan satu per satu untuk membangunkan iman saya. Saya mulai berkata, "Dalam nama Yesus, engkau sembuh dan pulih! Hai maut, engkau sudah dikalahkan, dimanakah sengatmu? Saya mengutip Yoh 10:10, " Tuhan Yesus, Engkau sudah datang supaya anak saya memiliki hidup. "Oleh bilur-bilurMu, anak saya sudah sembuh". " Roh kematian, roh maut, aku ikat, tolak, patah, hancurkan dalam nama Tuhan Yesus". Saya mengutip kitab Roma, "Tuhan, Engkau tidak menyayangkan anakMu sendiri, bagaimanakah mungkin Engkau tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kami bersama-sama dengan Dia, termasuk hidup buat anakku". "Tuhan Yesus, orang yang sudah mati Engkau bangkitkan, yang lumpuh berjalan, yang buta melihat. "Saya percaya, mujizatmu akan berlaku juga untuk anak saya". Saya selingi doa dengan menaikkan beberapa pujian penyembahan antara lain:

........TIADA YANG MUSTAHIL BAGI ORANG PERCAYA .....dst.
.......ALLAH MENGERTI, ALLAH PEDULI.....dst .

Dua setengah jam lamanya saya berdoa dan bergumul dalam doa peperangan. Meski suara saya tercekat dan hampir tidak mampu mengeluarkan suara, saya terus berusaha berdoa dan menaikan pujian dalam derasnya air mata.

Kira-2 jam 11.30 malam, Dokter anestesi kembali memanggil saya masuk ruangan. Kali ini Dokter itu yang terheran-heran menyaksikan apa yang terjadi dengan anak saya di ruang operasi. Dia mengatakan bahwa apa yg dia lihat diruang operasi benar-2 mujizat. Suhu tubuh anak saya perlahan-2 merambat naik mendekati normal dan tetap stabil meskipun AC dihidupkan kembali. Sistim pernapasannya juga berangsur-2 membaik dengan sendirinya dan alat bantu pernapasan bisa dilepas. Memang masih perlu bantuan oksigen tapi tidak dimasukakkan dengan selang ke dalam hidungnya tapi hanya konsentrasi oksigen disekitar hidungnya saja yang dijaga supaya memudahkan dia memperoleh oksigen. Saya percaya, semua hal yang terjadi diruang operasi seperti disaksikan oleh si dokter adalah karena kuasa doa. Tuhan Yesus sudah menunjukkan kedasyahatannya dengan membuat apa yg tidak masuk akal menurut logika kedokteran menjadi mungkin. Sungguh benar bahwa Tuhan Yesus adalah Dokter diatas segala dokter seperti yang saya saksikan kepada para dokter dan suster ketika saya diminta menanda tangani semua persyaratan sebelum anak saya masuk ruang operasi.

Jam 11.30 lebih sedikit, tubuh mungil itu didorong keluar ruang operasi menuju bangsal perawatan NICU karena kondisinya masih harus dipantau secara ketat tetapi masa kritisnya sudah lewat. Setelah itu, anak saya masih dirawat di ruang NICU selama 3 malam dan 2 malam di ruang perinatologi. Selama masa perawatan anak kami di rumah sakit, kami menerima banyak sekali perhatian, dukungan doa bahkan bantuan financial dari saudara-saudara seiman. Tanpa diminta, rekan-2 dari perusahaan Sinar Mas Group, perusahaan dimana dulu saya bekerja. mengumpulkan dana secara sukarela untuk membantu kami, padahal saya sudah sepuluh bulan mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Bahkan beberapa rekan sepelayanan dari PD Ekklesia Wisma Indah Kiat menyempatkan diri datang ke rumah sakit untuk berdoa bersama-2 dengan kami memohon pertolongan Tuhan.

Beaya rumah sakit memang tidak sedikit jumlahnya. Satu hal yang kami yakini adalah seperti tertulis dalam Alkitab, "Tuhan tidak akan pernah membiarkan anak-2Nya sampai meminta-minta roti". Dia adalah Allah yang maha menyediakan sehingga semua beaya rumah sakit bisa kami lunasi. Hari Rabu minggu lalu, tanggal 5 Oktober 2005 anak saya sudah boleh pulang. Sekarang anak saya memang masih terus dalam perawatan luka bekas operasi tapi dia sudah terlihat sehat dan lucu. Seperti tradisi orang sumba yang mewariskan nama, dia kami beri nama seperti nama bapak saya, Umbu Hendry Kabubu Tarap ( dipanggil Hendry ). Jadi secara biologis dia anak saya tapi secara nama dia adalah bapak saya. Inilah tradisi orang sumba yang unik. Hendry merupakan kado satu tahun perkawinan kami pada tanggal 10 October 2005 ini. Suatu kado dari Tuhan yang tidak ternilai harganya.

Kesimpulan:
1. Ada satu perikop dalam Alkitab ( saya lupa kitabnya ), ketika ada orang yang bertanya kepada Tuhan Yesus, siapakah yang berdosa, sehingga orang yg ada dihapan mereka pada saat itu lahir dalam keadaan cacat. Tuhan Yesus menjawab, "Bukan salah salah orang tuanya dan bukan juga salah siapa-2 tetapi karena dengan demikian kemuliaan Tuhan dinyatakan". Demikian pula saya mengimani bahwa Tuhan mengijinkan anak saya lahir dengan cacat kecil supaya lewat perkara ini, kami bisa bersaksi tentang kebaikan dan kemurahan Tuhan

2. Meski saya tidak pandai menulis, saya memutuskan untuk menulis kesaksian ini supaya siapa pun yang sempat membaca tulisan ini bisa melihat bahwa doa yang dinaikkan sungguh-2 sangat besar kuasanya sebagaimana telah difirmankan oleh Tuhan Yesus. Dia yang berjanji adalah Allah yang hidup dan berkuasa sehingga kita boleh yakin bahwa tidak ada yang mustahil bagi Dia . Tuhan Yesus, Allah yang kita sembah sungguh dasyhat dan luar biasa. Mengiring Tuhan Yesus tidak berarti terbebas dari masalah, tapi Tuhan Yesus berjanji memberikan jalan keluar bagi setiap masalah yang kita hadapi.

Jakarta, 10 October 2005
Umbu Hunga Meha Tarap
Juwita Rambu Ngana
Umbu Hendry Kabubu Tarap Read More...... Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS